Tampilkan postingan dengan label WISATA KALTIM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA KALTIM. Tampilkan semua postingan
Sejarah Provinsi Kalimantan Timur
Berikut adalah sejarah singkat Provinsi Kaltimantan Timur
Provinsi Kalimantan Timur selain sebagai suatu kesatuan administrasi, juga sebagai kesatuan ekologis dan historis, Kalimantan Timur sebagai wilayah administrasi dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 dengan Gubernur yang pertama adalah APT Pranoto.
Sebelumnya Kalimantan Timur merupakan salah satu Keresidenan dari Provinsi Kalimantan, sesuai dengan aspirasi rakyat pulau terbesar di Nusantara ini, sejak tahun 1956 wilayahnya dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Gubernur Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Timur yang memimpin wilayah ini adalah sebagai berikut :
  1. A.P.T Pranoto, sebagai Gubernur Kepala Daerah, masa bhakti 1957 s/d 1962.
  2. I.A.  Moeis, sebagai Kepala Daerah masa bhakti 1959.
  3. A. Moeis Hasan, sebagai Gubernur Kepala Daerah, masa bhakti 1962 s/d 1966.
  4. Sukadijo, sebagai Penjabat Gubernur Kepala Daerah, masa bhakti 1966 s/d 1967.
  5. Abdoel Wahab Syahrani, sebagai Penjabat Kepala Daerah masa bhakti 1967 s/d 1972.
  6. Abdoel Wahab Syahrani, sebagai Gubernur Kepala Daerah, masa bhakti 1972 s/d 1978.
  7. Ery Soepardjan, sebagai Gubernur Kepala Daerah, masa bhakti 22 Mei s/d 5 Juni 1983.
  8. H.Soewandi, sebagai Gubernur Kepala Daerah, dengan Wakil Gubernur Kepala Daerah, H.M Ardans, SH, masa bhakti 6 Juni 1983 s/d 6 Juni 1988.
  9. H. M. Ardans, SH, sebagai Gubernur Kepala Daerah, dengan Wakil Gubernur Kepala Daerah, H. Harsono, masa bhakti 7 Juni 1988 s/d 25 Juni 1993.
  10. H.M. Ardans, SH, sebagai Gubernur Kepala Daerah, dengan Wakil Gubernur Kepala Daerah, H. Suwarna Abdul Fatah. Masa bhakti 26 Juni 1993 s/d 25 Juni 1998.
  11. H. Suwarna Abdul Fatah, sebagai Gubernur dengan Wakil Gubernur Drs. H. Chaidir Hafidz dan Drs. Yurnalis Ngayoh, masa bhakti 26 Juni 1998 s/d 25 Juni 2003.
  12. H. Suwarna Abdul Fatah, sebagai Gubernur dengan Wakil Gubernur Drs. Yurnalis Ngayoh, masa bhakti 26 Mei 2003 s/d 25 November 2007.
  13. Drs. Yurnalis Ngayoh, MM, sebagai Pelaksana Tugas Gubernur, TMT 26 November 2007 s/d 10 Maret 2008.
  14. Drs. Yurnalis Ngayoh, MM, sebagai Gubernur, masa bhakti 10 Maret 2008 s/d 2 Juli 2008.
  15. Ir. Tarmidzi A. Karim (Sebagai Pj. Gubernur), TMT 3 Juli 2008 s/d 17 Desember 2008.
  16. Dr. H. Awang Faroek Ishak, MM. M.Si, sebagai Gubernur dengan Wakil Gubernur, Drs. H. Farid Wadjdy, M.Pd, masa bhakti 2008 s/d 2013.
Daerah Tingkat II di dalam Wilayah Kalimantan Timur. Dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, tentang penetapan Undang-Undang Darurat  Nomor 3 Tahun 1953, tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1955 No.9)
Lembaran Negara No. 72 Tahun 1959, meliputi :
  1. Kotamadya Samarinda, dengan ibukotanya Samarinda dan sekaligus sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Timur.
  2. Kotamadya Balikpapan, sebagai Ibukotanya Balikpapan dan merupakan pintu gerbang Kalimantan Timur.
  3. Kabupaten Kutai, dengan Ibukotanya Tenggarong.
  4. Kabupaten Pasir, dengan Ibukotanya Tanah Grogot.
  5. Kabupaten Berau, dengan Ibukotanya Tanjung Redeb.
  6. Kabupaten Bulungan, dengan Ibukotanya Tanjung Selor.

 Sejarah Kalimantan Timur Dalam perkembangan  lebih lanjut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 dibentuk 2 Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1981 dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1989, yakni :
  1. Kota Administratif Bontang (berada di Kabupaten Kutai).
  2. Kota Adminsitratif Tarakan (berada di Kabupaten Bulungan).
Selanjutnya sebagai perpanjangan tangan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur dalam mengelola administrasi Pemerintahan dan Pembangunan di Daerah ini, dibentuk 2 (dua) Pembantu Gubernur yang bertugas mengkoordinir Wilayah Utara dan Wilayah Selatan, yaitu :
  • Pembantu Gubernur Wilayah Utara, berkedudukan di Kota Tarakan yang dalam hal ini merupakan perpanjangan tangan Gubernur untuk wilayah Kabupaten Berau, Kabupaten Bulungan, dan Kota Administratif Tarakan, yang selanjutnya berdasarkan Undang-undang Nomor 29 Tahun 1997 menjadi Kotamadya Tarakan.
  • Pembantu Gubernur Wilayah Selatan, berkedudukan di Kota Balikpapan yang dalam hal ini merupakan perpanjangan tangan Gubernur untuk wilayah Kotamadya Balikpapan, Kabupaten Kutai, Kabupaten Pasir.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan direvisi dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka struktur Pemerintahan di daerah berubah antara lain Wilayah Pembantu Gubernur dihapuskan serta Kota Administratif Bontang dan Tarakan ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1997, Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2002, serta Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2007 mengenai pemekaran Kabupaten dan Kota di Wilayah Provinsi Kalimantan Timur, maka sampai dengan saat ini wilayah Provinsi Kalimantan Timur dari 6 (enam) Kabupaten/Kota dengan 10 (sepuluh) Kabupaten dan 4 (empat) Kota, yaitu:
  1. Kota Samarinda, Ibukotanya Samarinda.
  2. Kota Tarakan, Ibukotanya Tarakan.
  3. Kota Bontang, Ibukotanya Bontang.
  4. Kota Balikpapan, Ibukotanya Balikpapan.
  5. Kabupaten Paser, Ibukotanya Tanah Grogot.
  6. Kabupaten Berau, Ibukotanya Tanjung Redeb.
  7. Kabupaten Bulungan, Ibukotanya Tanjung Selor.
  8. Kabupaten Kutai Kartanegara, ibukotanya Tenggarong.
  9. Kabupaten Kutai Barat, Ibukotanya Sendawar.
  10. Kabupaten Kutai Timur, Ibukotanya Sangatta.
  11. Kabupaten Malinau, Ibukotanya Malinau.
  12. Kabupaten Nunukan, ibukotanya Nunukan.
  13. Kabupaten Penajam Paser Utara, Ibukotanya Penajam.
  14. Kabupaten Tana Tidung, Ibukotanya Tideng Pale.
Sejarah Provinsi Kalimantan Timur

Sejarah Provinsi Kalimantan Timur

Salah satu masjid kebanggaan warga Samarinda
Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan " PERJANJIAN BONGAJA" pada tanggal 18 Nopember 1667.

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan "SAMARINDA".

Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H" penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980.
Sumber: http://samarinda.go.id

Dari Samarenda Menjadi Samarinda History Berdirinya Ibukota Kalimantan Timur

Kalimantan Timur sudah lama dikenal sebagai pulau dengan panorama alam yang menawan, dengan kultur serta budaya yang ramah menjadikan banyak diperbincangkan oleh para wisatawan local maupun manca negara belakangan ini. sebagai pulau dengan daratan terluas di Indonesia Kalimantan Timur memeng dapat dijadikan rujukan wisata anda dan keluarga, berikut adalah beberapa objek wisata yang dapat menjadi refresnsi adan dan keluarga:
Danau Jempang dan danau-danau lainnya.

Danau Jempang terletak di Kecamatan Jempang dengan luas kurang lebih 15.000 Hektar (ha). Danau Semayang terletak di Kecamatan Semayang seluas kurang lebih 11.000 ha. Danau yang ada di Kojo (100 ha), Danau Berambai (30 ha), Danau Malinau (25 ha), dan danau Loa Maong (100 ha). Semua danau-danau ini merupakan penghasil ikan air tawar yang memasok sebagian besar ikan air tawar di Kalimantan Timur (Kaltim).

Kersik Luway

Letaknya di Kecamatan Melak, keruang lebih 15 Km dari Desa Melak. Luas area taman ini 5000 ha. Tiga jenis anggrek yang terdapat di tempat ini antara lain; Anggrek Hitam (coelogynepandurata), Erya Vania, Erya Florida, Coelogyne Rocus Soini dan Bulpophylum Mututina, serta beberapa jenis kantung semar.

Fasilitas di lokasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan bagi wisatawan tersedia di Melak. Untuk berkunjung ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari samarinda-Melak, dilanjutkan dengan kendaraan roda empat atau roda dua.

Mencimai, Benung, Engkni, Eheng dan Air Terjun Jantur Gemuruh

Adalah desa-desa yang didiami oleh suku Dayak Tunjung, terdapat lamin yang jaraknya 7 Km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni suku Dayak Benuaq. Di desa Mencimai terdapat museum “Mencimai” yang berisikan data dan informasi kehidupan suku Dayak Benuaq dalam berladang, berburu, dan kehidupan kemasyarakatan lainnya, lengkap dengan foto dan penjelasannya. Museum ini dibangun atas bantuan biaya seorang wisatawan Jepang. Lamin yang dihuni oleh masyarakat di desa-desa ini adalah; Lamin Mencimai, Lamin Benuang, Lamin Engkuni dan Lamin Eheng.

Air Terjun Jantur Gemuruh

Obyek wisata air terjun Jantur Gemuruh terletak di desa Mapan. Keistimewaan Air Terjun Jantur Gemuruh ini terdapat candi peninggalan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorog yang dibuat di bawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 meter. Lokasi ini cocok untuk dijadikan lokasi penelitian pihak kepurbakalaan.

Desa Tering

Terletak di tepi sungai Mahakam Kecamatan Long Iram. Di desa Tering bermukim masyarakat suku Bahau yang ramah menerima tamu dengan kesenian Hudoq. Fasilitas yang tersedia; Lamin adapt, Warung Art Shop. Upacara yang terkenal adalah Lamelah Tenan, Laliq Iqbal, dan Hudoq Apah.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-datah BIlang selama 2 hari.

Rukun Damai Long Bagun Ilir.

Rukun Damai terletak ditepi Sungai Mahakam Kecamatan Long Bagun. Desa ini didiami oleh suku Dayak lainnya Lepo Tau yang berasal dari Apo Kayan. Kehidupan mereka sangat rukun dan mempunyai lamin panjang. Seni budayanya asli dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suku-suku Dayak Kenyah lainnya. Desa Long Bagun Ilir dihuni oleh suku Dayak Bahau sehingga budaya mereka berbeda dengan suku lainnya. Sebagian masyarakatnya tinggal di Lamin. Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Long Bagun Ilir selama 2 hari.

Long Pahangai dan Long Tuyuk

Terletak di tepi Sungai Mahakam dan melalui jeram-jram yang arusnya deras. Suku Dayak yang berdomisili di Long Pahangai yaitu Umaq Suling, Huang Long Gelaat, Umaq Murut, Huang Kayan dan Umaq Pala.

Desa Long Tuyuk yang didomonasi Suku Dayak Bahau terkenal dengan budaya. Di desa ini terdapat lamin adapt Mesaat. Pada saat kita menelusuri daerah ini banyak terdapat jeram, diantaranya jeram Udang Napo Hulu dan Neohida.

Seni budaya masyarakat setempat yaitu upacara adapt Dangai, upacara adapt menyambut tamu dan lain-lain. Di daerah ini menggunakan pesawat dari Samarinda-data Dawai atau menggunakan long boat yang dicarter.(vb-01)

Mengenal Objek Wisata di Kalimantan Timur