Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KPMKT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KPMKT. Tampilkan semua postingan
![]() |
| M. Nor Gusti (Kontributor Blog KPMKT Jakarta) |
Artikel kpmktjakarta.blogspot.com
Beberapa hari ini sering kita dengar teriakan demokrasi di berbagai media massa. Demokrasi dianggap sebagai solusi yang tepat bagi kemajuan pembangunan bangsa yang tercinta ini. Bahkan, bapak wakil presiden republik yang tercinta ini juga mengemukakan pendapat bahwa demokrasi saat ini merupakan sebuah langkah yang tepat sebagai pilar pembangunan.
Terlepas dari itu semua, konsep demokrasi yang terjadi di Indonesia bisa berjalan karena adanya ciri khas yang menjadi jati diri bangsa selama ini yakni, nilai-nilai budaya yang mampu menggali keanekaragaman berbangsa dan bertanah air. Konsep demokrasi ini biasa disebut dengan Demokrasi Lokal, yang bertujuan untuk memperkenalkan ciri khas masing-masing daerah, yang nantinya akan menjadi sebuah kesatuan yang utuh dengan sebutan kesatuan berbangsa.
Faktor yang perlu di tinjau dalam menginterpretasikan demokrasi lokal.
Pertama, faktor determinan nilai budaya lokal yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang demokratis dan nilai-nilai yang kurang demokratis. Artinya nilai-nilai yang bersesuaia dan kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi universal. Sedangkan nilai-nilai yang tidak demokratis adalah yang bersebrangan dengan dengan nilai-nilai universal sehingga menghambat perkembangan demokrasi.
Kedua, faktor determinan peran aktor. Aktor sebagaimana faktor yang paling dominan dalam membangun demokrasi lokal. Peranan aktor yang sangat konstruktif dalam menggambarkan kondisi aktor yang secara aktif dan positif sebagai agen perubahan bagi pembangunan dan perkembangan masyarakat.
Ketiga, faktor determinan kelembagaan lokal. Artinya eksistensi kelembagaan politik lokal juga sangat penting bagi demokrasi lokal. Dalam hal ini lembaga politik lokal yang bersifat fungsional dan disfungsional. Artinya peran serta partisipasi lembaga-lembaga politik lokal baik secara fungsional maupun disfungsional juga sangat penting untuk perkembangan demokrasi lokal. (Zuhro, 2011)
Demokrasi Lokal di Kalimantan Timur.
Demokrasi lokal saat ini sedang mengalami perkembangan yang cukup signifikan, buktinya beberapa daerah di Indoensia menggunakan produk Demokrasi Lokal sejak di dengungkannya UU No 32 Tahun 2002 tentang Otonomi Daerah. Artinya, kebijakan yang dulunya di ambil alih langsung oleh pemerintah pusat, kini telah diserahkan kembali ke masing-masing daerah. Hal, ini tentunya dapat membuka ruang agar terjadinya pemerataan pembangunan sosial di seluruh daerah yang dianggap tertinggal akibat sentralisasi pada zaman orde baru.
Tidak terlebih Kalimantan Timur, yang merupakan salah satu imbas akibat UU Otoda tersebut. Kaltim yang bisa dibilang provinsi kaya akan SDA ini merupakan salah satu pilar yang berperan aktif dalam pembangunan bangsa ini. Namun disisi lain, SDM yang ada di kalimantan timur juga sangat tertinggal dari provinsi lainnya. Akibat sentraliasi yang menyebabkan daerah-daerah tertinggal selangkah daripada pulau Jawa.
Dalam konsep demokrasi lokal, faktor-faktor determinan mampu memberikan sebuah tawaran yang cukup menggiurkan ketika terjadi pilkada. Dalam hal ini, secara transaksional faktor-faktor tersebut sudah bisa memberikan kriteria tertentu terhadap siapa dan apa yang akan kita pilih nantinya. Artinya pembangunan yang terjadi di kalimantan timur, ialah sarat akan sebuah nilai-nilai budaya dan peran aktor yang dianggap berperan untuk mensukseskan pilkada. Terdapat sebuah nilai pragmatis dan transaksional antara orang-orang yang berpengaruh tersebut dengan salah satu calon kepala daerah. Contohnya saja peran tokoh-tokoh adat yang sangat bisa mengamankan suara pada saat pemilihan kepala daerah. Belum lagi dengan keberadaan lembaga politik yang disfungsional secara implisit bisa menjadi fungsional, apalagi calon yang di dukung ialah seorang pegawai instansi tertentu dan memiliki pengaruh besar. Tentu keberadaan lembaga politik yang fungsional hanya sebagai pemanis belaka, sehingga lembaga tersebut bisa berfungsi secara fungsional ketika adanya kampanye salah satu calon.
Yang terjadi di kalangan para pemimpin daerah saat ini ialah, sempitnya makna demokrasi sebagai mitra pembangunan kalimantan timur ke depan. Ini adalah sebuah tantangan baru bagi para pemimpin untuk bisa lebih meluaskan pemahaman tentang makna demokrasi sehingga tidak menghambat laju pertumbuhan demokrasi lokal. Tentu dengan keadaan ini, kita seolah-olah dibuat terpaksa untuk mengikuti kancah proses demokrasi lokal yang begitu sarat akan pragmatisme dan transaksional. Politik golongan yang begitu getol menghujam bangsa ini akan selalu menghantui kita sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
* Penulis adalah mahasiswa asal kaltim yang sedang menempuh study di malang dan sebagai ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur (KPMKT) Cabang Malang
Makna Demokrasi Lokal sebagai Pilar Pembangunan Daerah Kalimantan Timur
| Pengurus KPMKT Jakarta |
Ketua Umum KPMKT Jakarta Hasan Albanna HK, Minggu (30/10) mengatakan, mereka menolak dengan enam alasan. Pertama, usia Kasharianto tidak masuk dalam kategori pemuda berdasarkan UU No.40 Kepemudaan yang membatasi usia seorang pemuda.
Kedua, Kasharianto tidak mampu membawa perubahan di tubuh PP KMKT selama periode kemarin. Ketiga, pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) PP KPMKT di Kuala Lumpur Malaysia, merupakan pemborosan anggaran yang berasal dari APBD. Keempat, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) PP KPMKT pada Mubes di Kuala Lumpur tidak rasional.
Ketiga, proses pemilihan ketua PP KPMKT terindikasi tidak sehat karena sarat intervensi dan rekayasa. Keenam, terpilihnya Kasharianto untuk ketiga kalinya mengancam regenerasi dan demokrasi dalam beroganisasi.
Karena itu, sebagai bentuk penolakan, KPMKT Jakarta tidak ikut sebagai peserta Mubes yang berlangsung di Kuala Lumpur dan tidak ada perwakilan yang disepakati secara resmi dari KPMKT Jakarta sebagai peserta.
Hasan mengatakan, KPMKT Jakarta merasa prihatin dan berkepantingan menyikapi hasil Mubes KPMKT. "Cabang-cabang KPMKT dan Alumni KPMKT yang juga turut prihatin aksi pembodohan ini dibiarkan telanjang dan menari dengan vulgar tanpa ada keterlibatan cabang-cabang dalam semua hal strategis dalam pengambilan kebijakan di tingkat PP KPMKT. dengan kata lain selama tiga tahun kepengurusan di priode yang lalu cabang-cabang di paksa jadi penonton," katanya.
Kuala Lumpur, Malaysia, yang memilih Kasharianto sebagai ketua umum Pengurus Pusat (PP KPMKT). Ketua Umum KPMKT Jakarta Hasan Albanna HK, Minggu (30/10/2011) mengatakan, mereka menolak dengan enam alasan.
Penulis : Basir Daud
Editor : Fransina
Sumber: repost dari situs kaltim.tribunews.com
Sumber: repost dari situs kaltim.tribunews.com
Hasil Mubes XI KPMKT di Kuala Lumpur di TOLAK!
| Alternatif Logo IKA KPMKT |
Ikatan Alumni KPMKT yang baru saja dibentuk kini sudah memiliki himne yang baru saja kami dapatkan teks nya di website alumni kpmkt, sayangnya tidak di sertakan siapa perncipta dari himne tersebut meskipun disitu tertulis E. Idrus Samhazes yang memposting himne tersebut di web.
Jika kita mencoba meresapi syair dari himne ika KPMKT tersebut tergambar dengan jelas semangat untuk membangunkan pemuda-pemuda kaltim yang selama ini masih di ninabobokkan dengan sumber daya alam kaltim yang melimpah ruah untuk bersatu mengambil peran dalam pembangunan kaltim baik pikiran,tenaga bahkan jiwa dan raga jika perlu.
Meskipun saya sendiri masih belum tahu bagaimana lirik dari teks himne IKA KPMKT ini jika di nyanyikan namun naluri saya sebagai orang awam dari dunia musik bisa merasakan glegar samangat dan cita-cita mulia membangun kaltim dan NKRI, berikut adalah teks dari himne ika KPMKT:
(nrdin/kpmkt-jkt)
Hymne IKA KPMKT
Oleh: Albanna HK*
![]() |
| Albanna HK (Ketua Umum KPMKT Jakarta) |
Kalimantan Timur, mengapa belum menemui titik kebangkitannya. Apakah ini ditandai dengan banyaknya persolan di tingkat daerah hingga tingkat provinsi?. Tidakkah provinsi ini memiliki sederet kekayaan alam dan kaya manusia berkualitas yang telah mengenyam dan memelajari berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, sosial serta tidak ketinggalan pula disiplin ilmu tentang dasar-dasar dari agama yang kesemuanya merupakan kekayaan luar biasa.
Akan tetapi, mengapa hingga kini, Kalimantan timur yang telah menghasilkan manusia-manusia berkualitas dari segi kepribadian, intelektualitas, spiritual, yang sukses dan menjadi tokoh besar di kaltim belum mampu menggerakkan kaltim yang raksasa ini.
Justru kini pererbeda itu sangat terasa jika mengambil tolak ukur dengan tokoh-tokoh pendahulu yang meggerakkan perubahan disegala bidang. Kita bisa memastikan mandeknya regenerasi sebagai pelanjut yang berkarakter pemimpin penuh dengan visi-misi dan bertanggung jawab belum cukup terpenuhi, sejauh ini kaltim hanya mencetak manusia-manusia dengan sarjana tukang. Tidak ada spesialisi pencapaiyan sebagai lompatan cepat yang mana setiap manusia kaltim bebas menentukan masa depannya sendiri namun penuh tanggung jawab, memilih apa yang mereka minati dan merealisasikan apa yang mereka mau.
Mungkin ini kedengarannya terlalu mengada-ada dan sedikit absurd. Tapi itu bagian dari pemikiran yang harus segera diwujudkan. Pemuda kaltim tak harus dibiarkan instan dan manja. Sebaliknya, bagaimana visi-misi pendidikan kaltim bisa menggembleng pemudanya agar mandiri dan mampu menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu, hanya pada titik-titik tertentu dan berkemauan kuat yang mampu merealisasikanya.
Itu semua terkait dengan kebijakan pemerintah kaltim dan rakyat kaltim sebagai pendukungnya. Ini adalah fitrah seorang pemuda. Pemuda berbeda dengan tumbuhan atau binatang, yang segala kehidupannya seragam dan telah ditentukan dari awal. Pemuda punya semangat berkobar, bercita-cita dan harapan. Dalam memerjuangkan kehidupannya, Pemuda harus kreatif. Tak mentah-mentah menelan yang ada, sebagaimana hewan dan tumbuhan. Bagi pemuda, semuanya harus diolah, dipikir, dirasa dan dikembangkan. Dari situ, tercipta berbagai kemungkinan-kemungkinan baru. Selanjutnya, terwujudlah proses penciptaan yang terus menerus menuju kesempurnaan.
Demikianlah, pemuda kaltim sangat manusiawi. Hal sesederhana ini saja bisa membedakan pemuda kaltim dengan pemuda diluar kaltim, yang tentunya punya perbedaan jelas dan karakter. Bicara karakter, apa yang ada dikaltim sudah merupakan karakter, namun karakternya masih mandek, hanya menjadi pajangan dan tontonan telanjang. Seharusnya kaltim yang kaya dengan corak karakter bisa memulainya dari cara berketuhanan, kehidupan, kebudayaan, lingkungan, toleransi, pluralitas, kekayaan alam, dan sebagainya.
Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan asasi yang pasti ada di benak pemuda kaltim. Dan pemuda kaltim tak mungkin tidak menanyakan hal itu. Tak mungkin pula pertanyaan ini terjawab hanya dengan mengikuti rutinitas konvensional. Kehidupan manusia bukan sekadar lahir, kecil, dewasa, sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak dan kecil lagi, begitu seterusnya, Terdapat hal besar di balik itu semua. Ini tak mungkin mampu terpikirkan oleh pemuda-pemuda bermental tukang. Dan itulah kenapa, pemuda kaltim belum berani tandang kegelanggang? Sebab pemuda kaltim belum menemukan spirit dan ruh yang cita-citakan kaltim.
Perlu dipahami bahwa kaltim bukan hanya berdiri sebagai provinsi strategis dan kaya akan kekayaan alamnya, kaya akan ragam budayanya. Lebih dari itu, provinsi kaltim adalah ruh atau semacam spirit, yang menyebabkan raga Indonesia ini hidup. Maka pemuda kaltim bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah pemuda kaltim yang sebenarnya. Pemuda kaltim adalah kekuatan, yang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan dunia yang menggunakan hati dan akalnya. Sehingga untuk menjadi pemuda kaltim yang unggul tak ada cara lain, melainkan dengan mengintegrasi nilai dan semangat ke-kaltim-an dalam menyongsong kaltim yang lebih baik. Tokoh-tokoh kaltim yang telah mendahulaui kita dan totoh-tokoh kaltim yang sekarang masih mendedikasikan hidupnya untuk kaltim adalah contoh dari manusia kaltim yang memiliki jiwa kaltim...
Akan tetapi, mengapa hingga kini, Kalimantan timur yang telah menghasilkan manusia-manusia berkualitas dari segi kepribadian, intelektualitas, spiritual, yang sukses dan menjadi tokoh besar di kaltim belum mampu menggerakkan kaltim yang raksasa ini.
Justru kini pererbeda itu sangat terasa jika mengambil tolak ukur dengan tokoh-tokoh pendahulu yang meggerakkan perubahan disegala bidang. Kita bisa memastikan mandeknya regenerasi sebagai pelanjut yang berkarakter pemimpin penuh dengan visi-misi dan bertanggung jawab belum cukup terpenuhi, sejauh ini kaltim hanya mencetak manusia-manusia dengan sarjana tukang. Tidak ada spesialisi pencapaiyan sebagai lompatan cepat yang mana setiap manusia kaltim bebas menentukan masa depannya sendiri namun penuh tanggung jawab, memilih apa yang mereka minati dan merealisasikan apa yang mereka mau.
Mungkin ini kedengarannya terlalu mengada-ada dan sedikit absurd. Tapi itu bagian dari pemikiran yang harus segera diwujudkan. Pemuda kaltim tak harus dibiarkan instan dan manja. Sebaliknya, bagaimana visi-misi pendidikan kaltim bisa menggembleng pemudanya agar mandiri dan mampu menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu, hanya pada titik-titik tertentu dan berkemauan kuat yang mampu merealisasikanya.
Itu semua terkait dengan kebijakan pemerintah kaltim dan rakyat kaltim sebagai pendukungnya. Ini adalah fitrah seorang pemuda. Pemuda berbeda dengan tumbuhan atau binatang, yang segala kehidupannya seragam dan telah ditentukan dari awal. Pemuda punya semangat berkobar, bercita-cita dan harapan. Dalam memerjuangkan kehidupannya, Pemuda harus kreatif. Tak mentah-mentah menelan yang ada, sebagaimana hewan dan tumbuhan. Bagi pemuda, semuanya harus diolah, dipikir, dirasa dan dikembangkan. Dari situ, tercipta berbagai kemungkinan-kemungkinan baru. Selanjutnya, terwujudlah proses penciptaan yang terus menerus menuju kesempurnaan.
Demikianlah, pemuda kaltim sangat manusiawi. Hal sesederhana ini saja bisa membedakan pemuda kaltim dengan pemuda diluar kaltim, yang tentunya punya perbedaan jelas dan karakter. Bicara karakter, apa yang ada dikaltim sudah merupakan karakter, namun karakternya masih mandek, hanya menjadi pajangan dan tontonan telanjang. Seharusnya kaltim yang kaya dengan corak karakter bisa memulainya dari cara berketuhanan, kehidupan, kebudayaan, lingkungan, toleransi, pluralitas, kekayaan alam, dan sebagainya.
Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan asasi yang pasti ada di benak pemuda kaltim. Dan pemuda kaltim tak mungkin tidak menanyakan hal itu. Tak mungkin pula pertanyaan ini terjawab hanya dengan mengikuti rutinitas konvensional. Kehidupan manusia bukan sekadar lahir, kecil, dewasa, sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak dan kecil lagi, begitu seterusnya, Terdapat hal besar di balik itu semua. Ini tak mungkin mampu terpikirkan oleh pemuda-pemuda bermental tukang. Dan itulah kenapa, pemuda kaltim belum berani tandang kegelanggang? Sebab pemuda kaltim belum menemukan spirit dan ruh yang cita-citakan kaltim.
Perlu dipahami bahwa kaltim bukan hanya berdiri sebagai provinsi strategis dan kaya akan kekayaan alamnya, kaya akan ragam budayanya. Lebih dari itu, provinsi kaltim adalah ruh atau semacam spirit, yang menyebabkan raga Indonesia ini hidup. Maka pemuda kaltim bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah pemuda kaltim yang sebenarnya. Pemuda kaltim adalah kekuatan, yang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan dunia yang menggunakan hati dan akalnya. Sehingga untuk menjadi pemuda kaltim yang unggul tak ada cara lain, melainkan dengan mengintegrasi nilai dan semangat ke-kaltim-an dalam menyongsong kaltim yang lebih baik. Tokoh-tokoh kaltim yang telah mendahulaui kita dan totoh-tokoh kaltim yang sekarang masih mendedikasikan hidupnya untuk kaltim adalah contoh dari manusia kaltim yang memiliki jiwa kaltim...
*Ketua Umum KPMKT Jakarta
Bebagai Alasan Kenapa Harus Berjiwa KALTIM
![]() |
| M. Noor Gusti |
Oleh: Muhammad Nor Gusti*
Organisasi mahasiswa merupakan sarana untuk mendongkrak kemampuan mahasiswa dalam bernalar kritis, objektif, inovatif maupun kreatif. Melalui organisasi mahasiswa inilah mahasiswa berperan aktif dalam menyampaikan sebuah gagasan kritis yang berfungsi membawa perubahan di lingkungannya.
Pemuda ataupun mahasiswa berfungsi sebagai agent of social change, yang mana peran pemuda dan mahasiswa sangat diperhitungkan dalam merubah tatanan hidup orang banyak. Sebagai pemuda, tentunya mempunyai semangat yang membara dalam sebuah tatanan perubahan.
Dalam organisasi mahasiswa, tentunya mempunyai peran dan fungsinya sehingga mahasiswa dapat menentukan sebuah pilihan, apakah organisasi mahasiswa ini layak atau tidak dalam menopang sebuah aspirasi ataupun gagasan-gagasan kritis mahasiswa. Karena, pada realitasnya organisasi mahasiswa ini hanya dijadikan fungsi simbolik bagi kalangan tertentu untuk ”kepentingan” individu, sehingga mereka tidak mampu memahami esensi daripada organisasi mahasiswa tersebut.
Di HMI misalnya, sangat banyak sekali calon kader yang mengikuti program LK 1, ada beberapa macam materi inti yang di ajarkan, namun itu hanya menjadi fungsi simbolis semata karena banyak calon kader yang tidak mampu mengetahui esensi dari HMI itu sendiri. Padahal sudah jelas organisasi semacam HMI akan membentuk sebuah karakter mahasiswa yang benar-benar sesuai dengan tujuan dari HMI, sehingga bagi kader tersebut mempunyai senjata ampuh dalam menangani problem organisasi yang ada.
Selain organisasi mahasiswa, ada juga organisasi mahasiswa daerah atau yang biasa disebut dengan orda (organisasi daerah). Orda ini berfungsi sebagai wadah mahasiswa daerah yang sifatnya mengakomodir mahasiswa dari daerah asal. Sehingga dalam peran dan fungsinya sangat berbeda dari organisasi mahasiswa yang ada di kampus. Berbeda dengan OMEK, Orda hanya melingkupi dan sebagai pengontrol kebijakan pendidikan di daerah, sehingga peranannya hanya berada pada koridor kedaerahan saja.
Sebagai contoh, KPMKT, orda ini merupakan wadah yang berperan sebagai pengakomodir aspirasi mahasiswa asal Kalimantan Timur. Fungsi dari orda ialah mengcover mahasiswa asal daerah, agar dapat membantu masyarakat dalam membangun daerah dan terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dan sebagai alat kontrol kebijakan pemerintah daerah dan pemerinttah pusat dalam bidang pendidikan.
KPMKT merupakan sebuah Organisasi Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur yang melingkupi mahasiswa di daerah untuk ikut berperan dalam membangun kalimantan timur. Pada tahun 1966, KPMKT didirikan oleh sang pelopor yaitu Zimmi Nata, sekaligus ketua umum pertama KPMKT. Awal mulanya bukan KPMKT, melainkan KPPMKT (Keluarga Pelajar Pemuda Mahasiswa Kalimantan Timur), ketika itu beliau merupakan seorang mahasiswa yang sangat miris dengan keadaan pemuda dan pelajar mahasiswa kalimantan timur yang sangat begitu kurang di perhatikan oleh pemerintah propinsi. Sehingga itu beliau berpikir untuk menyatukan mahasiswa kaltim dalam fungsi kontrol pemerintah.
Mahasiswa daerah pada zaman Orba dengan Mahasiswa Zaman Syle.
Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa fungsi orda ialah sebagai alat kontrol pemerintah propinsi, maka terjadi banyak perubahan yang cukup signifikan antara Mahasiswa pada zaman Orba dengan mahasiswa zaman Millenium (style). Pada zaman Orba, Mahasiswa Kaltim sagat diperhitungkan dalam menyikapi berbagai kebijakan daerah Kaltim, bahkan sampai rela mati demi membangun Daerah. Berbeda halnya dengan Zaman sekarang, Mahasiswa Kaltim lebih cenderung hedonis, bahkan apatis terhadap organsisasi. Sesuai dengan hasil survey penulis 75 % Mahasiswa Kalimantan Timur berada pada cengkraman Hedonis dan 25 % kritis. Ini disebabkan, karena faktor psikologi yang sekiranya mampu membuat mahasiswa kaltim menjadi apatis. Karena seorang organisatoris selalu diidentikan dengan seseorang yang formal dan rapi, padahal faktor ini sudah terpatahkan ketika penulis aktif di berbagai organisasi. Artinya, di dalam sebuah organisasi tentunya karakter diri sendirilah yang menentukan pembawaan diri terhadap lingkungan sekitarnya.
Jika ini dikomparasikan dengan Mahasiswa Luar jawa lainnya, seperti Sulawesi sungguh ironi mahasiswa Kaltim yang dulunya hampir semua kritis sekarang justru malah tertinggal dengan Mahasiswa Sulawesi. Apakah ada indikator yang menyebabkan mahasiswa kaltim seperti ini ? Tentu, mejadi sebuah pertanyaan besar bagi penulis. Kenapa mahasiswa kaltim sekarang begitu melempem dimata masyarakat perantauan ? Kenapa tidak seperti dulu?. Ada apa dibalik semua ini ?.
Sementara, pada dasarnya mahasiswa merupakan sebagai agent of change and agent of social control, yang mana peran mahasiswa sangat dibutuhkan dalam membentuk tatanan masyarakat yang humanis dan responsif. Seperti yang dikemukakan Hutington ”Sebuah Peradaban dan perubahan adalah budaya paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat yang dibedakan secara nyata dari makhluk lainnya.”
Adanya asrama, ataupun fasilitas yang telah di subsidi oleh pemerintah propinsi, tidak dapat menjadi sebuah syarat yang proporsional dalam mengakomodir mahasiswa daerah kaltim. Justru malah menjadi sebuah boomerang dalam menghandle mahasiswa kaltim, dengan adanya Orda inilah yang akan justru menjadi sebuah patokan umum dalam mengakomodir pelajar dan mahasiswa daerah. Dengan masifnya komunikasi yang dilakukan oleh orda tentu akan menjadikan mahasiwa kaltim lebih presif lagi dan mampu memberikan sebuah kontribusi besar dalam pembangunan daerah, bahkan mungkin tidak hanya di daerah melainkan di masyarakat luas pun dapat diperhitungkan.
Seorang pemimpin dimana saja dia berada, harus berperilaku seperti ”mata air” yang mengalirkan air yang bergizi, sehingga semua kehidupan disekitarnya dapat mekar dan berkembang. Perilaku ”mata air” yang mengalirkan racun akan mematikan kehidupan sekitarnya (B.J Habibie).
Pemuda ataupun mahasiswa berfungsi sebagai agent of social change, yang mana peran pemuda dan mahasiswa sangat diperhitungkan dalam merubah tatanan hidup orang banyak. Sebagai pemuda, tentunya mempunyai semangat yang membara dalam sebuah tatanan perubahan.
Dalam organisasi mahasiswa, tentunya mempunyai peran dan fungsinya sehingga mahasiswa dapat menentukan sebuah pilihan, apakah organisasi mahasiswa ini layak atau tidak dalam menopang sebuah aspirasi ataupun gagasan-gagasan kritis mahasiswa. Karena, pada realitasnya organisasi mahasiswa ini hanya dijadikan fungsi simbolik bagi kalangan tertentu untuk ”kepentingan” individu, sehingga mereka tidak mampu memahami esensi daripada organisasi mahasiswa tersebut.
Di HMI misalnya, sangat banyak sekali calon kader yang mengikuti program LK 1, ada beberapa macam materi inti yang di ajarkan, namun itu hanya menjadi fungsi simbolis semata karena banyak calon kader yang tidak mampu mengetahui esensi dari HMI itu sendiri. Padahal sudah jelas organisasi semacam HMI akan membentuk sebuah karakter mahasiswa yang benar-benar sesuai dengan tujuan dari HMI, sehingga bagi kader tersebut mempunyai senjata ampuh dalam menangani problem organisasi yang ada.
Selain organisasi mahasiswa, ada juga organisasi mahasiswa daerah atau yang biasa disebut dengan orda (organisasi daerah). Orda ini berfungsi sebagai wadah mahasiswa daerah yang sifatnya mengakomodir mahasiswa dari daerah asal. Sehingga dalam peran dan fungsinya sangat berbeda dari organisasi mahasiswa yang ada di kampus. Berbeda dengan OMEK, Orda hanya melingkupi dan sebagai pengontrol kebijakan pendidikan di daerah, sehingga peranannya hanya berada pada koridor kedaerahan saja.
Sebagai contoh, KPMKT, orda ini merupakan wadah yang berperan sebagai pengakomodir aspirasi mahasiswa asal Kalimantan Timur. Fungsi dari orda ialah mengcover mahasiswa asal daerah, agar dapat membantu masyarakat dalam membangun daerah dan terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dan sebagai alat kontrol kebijakan pemerintah daerah dan pemerinttah pusat dalam bidang pendidikan.
KPMKT merupakan sebuah Organisasi Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur yang melingkupi mahasiswa di daerah untuk ikut berperan dalam membangun kalimantan timur. Pada tahun 1966, KPMKT didirikan oleh sang pelopor yaitu Zimmi Nata, sekaligus ketua umum pertama KPMKT. Awal mulanya bukan KPMKT, melainkan KPPMKT (Keluarga Pelajar Pemuda Mahasiswa Kalimantan Timur), ketika itu beliau merupakan seorang mahasiswa yang sangat miris dengan keadaan pemuda dan pelajar mahasiswa kalimantan timur yang sangat begitu kurang di perhatikan oleh pemerintah propinsi. Sehingga itu beliau berpikir untuk menyatukan mahasiswa kaltim dalam fungsi kontrol pemerintah.
Mahasiswa daerah pada zaman Orba dengan Mahasiswa Zaman Syle.
Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa fungsi orda ialah sebagai alat kontrol pemerintah propinsi, maka terjadi banyak perubahan yang cukup signifikan antara Mahasiswa pada zaman Orba dengan mahasiswa zaman Millenium (style). Pada zaman Orba, Mahasiswa Kaltim sagat diperhitungkan dalam menyikapi berbagai kebijakan daerah Kaltim, bahkan sampai rela mati demi membangun Daerah. Berbeda halnya dengan Zaman sekarang, Mahasiswa Kaltim lebih cenderung hedonis, bahkan apatis terhadap organsisasi. Sesuai dengan hasil survey penulis 75 % Mahasiswa Kalimantan Timur berada pada cengkraman Hedonis dan 25 % kritis. Ini disebabkan, karena faktor psikologi yang sekiranya mampu membuat mahasiswa kaltim menjadi apatis. Karena seorang organisatoris selalu diidentikan dengan seseorang yang formal dan rapi, padahal faktor ini sudah terpatahkan ketika penulis aktif di berbagai organisasi. Artinya, di dalam sebuah organisasi tentunya karakter diri sendirilah yang menentukan pembawaan diri terhadap lingkungan sekitarnya.
Jika ini dikomparasikan dengan Mahasiswa Luar jawa lainnya, seperti Sulawesi sungguh ironi mahasiswa Kaltim yang dulunya hampir semua kritis sekarang justru malah tertinggal dengan Mahasiswa Sulawesi. Apakah ada indikator yang menyebabkan mahasiswa kaltim seperti ini ? Tentu, mejadi sebuah pertanyaan besar bagi penulis. Kenapa mahasiswa kaltim sekarang begitu melempem dimata masyarakat perantauan ? Kenapa tidak seperti dulu?. Ada apa dibalik semua ini ?.
Sementara, pada dasarnya mahasiswa merupakan sebagai agent of change and agent of social control, yang mana peran mahasiswa sangat dibutuhkan dalam membentuk tatanan masyarakat yang humanis dan responsif. Seperti yang dikemukakan Hutington ”Sebuah Peradaban dan perubahan adalah budaya paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat yang dibedakan secara nyata dari makhluk lainnya.”
Adanya asrama, ataupun fasilitas yang telah di subsidi oleh pemerintah propinsi, tidak dapat menjadi sebuah syarat yang proporsional dalam mengakomodir mahasiswa daerah kaltim. Justru malah menjadi sebuah boomerang dalam menghandle mahasiswa kaltim, dengan adanya Orda inilah yang akan justru menjadi sebuah patokan umum dalam mengakomodir pelajar dan mahasiswa daerah. Dengan masifnya komunikasi yang dilakukan oleh orda tentu akan menjadikan mahasiwa kaltim lebih presif lagi dan mampu memberikan sebuah kontribusi besar dalam pembangunan daerah, bahkan mungkin tidak hanya di daerah melainkan di masyarakat luas pun dapat diperhitungkan.
Seorang pemimpin dimana saja dia berada, harus berperilaku seperti ”mata air” yang mengalirkan air yang bergizi, sehingga semua kehidupan disekitarnya dapat mekar dan berkembang. Perilaku ”mata air” yang mengalirkan racun akan mematikan kehidupan sekitarnya (B.J Habibie).
* Mahasiswa Kaltim Asal Tarakan
Kredibiltas Mahasiswa Kaltim dalam sebuah renungan
Oleh: Alban HK*
TIDAK salah jika seseorang penguasa mendekat kepada rakyatnya di kala butuh dukungan, ketika tertimpa berbagai kesulitan.
Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan , Penggembira, dan Penolong? Namun pantaskah seseorang penguasa ingat dan mengiba kepada rakyatnya hanya di kala ada kepentingan tertentu, sementara di waktu terpilih tidak pernah mengingat rakyatnya, membantu sebagimana mestinya, dan berterimakasih yang bukan hanya sekedar berterimakasih? Coba saja bayangkan dan analogikan dengan kehidupan saat ini. Sejatinya seorang pemimpin yang penuh kasih tentu selalu berlapang dada menerima keluh kesah rakyat yang dipimpinya yang dirundung masalah. Namun sungguh terkadang para penguasa itu menganggap rakyat yang dipimpinya tidak bermoral dan akan dinilai menyimpang ketika protes terjadi dimana-mana secara anarkis lalu kemudia dianggap tidak menghormatinya dan tidak taat kepada hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku.
Demikianlah, dalam kehidupan masyarakat kita saat ini banyak terjadi perilaku serupa. Mereka rajin bersuara, mengubar janji, berumrah hati bak laksana manusia paling baik di jagat raya ini, dan siap menjadi ratul adil ketika rakyatnya dirundung masalah. Padahal, kita sebagai rakyat biasa sangat tau, seorang penguasa sudah seharusnya mendengar dan melaksanakan apa yang menjadi tuntutan rakyatnya baik di kala sedang buruk maupun baik. Jadi, jangan menjadi seseorang pemimpin yang terkesan sangat dekat dengan rakyatnya jika dia sedang membutuhkan dukungan. Di situlah salah satu rahasia kekuatan rakyat sebenarnya dan menjadi penetu siapa sebenarnya seorang pepmimpin yang memiliki charisma dan karakter. Bahkan penguasa harus ingat kepada rakyatnya terus menerus dilakukan kapan saja, di mana saja sekalipun di meja makan. Penguasa yang baik dan pantas memimpin adalah mengingat dan memikirkan kondisi rakyatnya dan tidak mengenal ruang maupun waktu, sehingga siapa pun dan dalam situasi apa pun, rakyat kelas bawah, menengah, ataupun atas bisa menjumpai pemimpinya untuk mengadukan segala persoalan hidupnya dan nasibnya.
Rakyat dari kelas apapun bebas menjumpai pemimpinya sebagaimana mereka juga bebas untuk menggalang dukungan. Di sinilah penentu seorang pemimpin yang pantas memimpin dan di sini pula keluhuran serta kualitas manusia pemimpin akan teruji. Dalam menghayati apa yang menjadi amanahnya dan cinta kepada rakyatnya, sesungguhnya seseorang pemimpin tengah mengaktualisasikan kemampuanya yang bebaskan diri dari dominasi ego kepentingan tertentu maupun kepentingan pribadii.
Oleh karenanya saat seorang pemimpin berdialog dengan rakyatnya, sesungguhnya pada waktu yang sama seorang pemimpin juga melakukan dialog dengan diri sendiri. Adakah dialog itu dijiwai rasa syukur, rasa penyesalan, penuh tanggungjawab ataukah datar-datar saja, semuanya itu akan berpulang pada kesadaran dan seorang pemimpin. Dengan demikian, ketika seseorang pemimpin tengah melaksanakan tanggungjawabnya, semestinya juga disertai keinginan kuat untuk melakukan perbaikan diri sebab pemimpin akan banyak berbenturan dengan kehendak atas kepentingan-kepentingan tertentu yang sangat kuat melakukan terror jalan pintas membuka dirinya pada kehancuran dan hilangnya kepercayaan masyarakat. Maka fungsi kepemimpinan dan tanggung jawab harus dipahami dan dihayati dan bukan sebagai himpunan tori belaka ketika berusaha meyakinkan masyarakat dengan sejuta janji-janji, bisa dipastikan seorang pemimpin akan kehilangan kharismanya dan kepercayaan rakyatnya jika belum bisa membina diri pribadi dan perilaku baik dalam mendukung bagi terwujudnya masyarakat yang adil, sejahtera, sehat sentosa dan hidup dalam kedamaiyan.
Janji-janji kepada rakyartnya lalu kemudian berubah bagaikan peristiwa yang tidak pernah terjadi disaat mereka terpilih untuk mengamankan posisi ataupun untuk mengawetkan jabatan kepada para pemodal disaat masa kampanye. Rakyat lalu diposisikan sebagai manusia yang tidak pernah ada, bukan lagi sebagai bentuk ekspresi kegelisahan dan cinta perubahan sebagaiamana saat-saat kampanye. Dalam kaitan ini, tidak mengherankan jika para pejabat tinggi negara senang berkonsultasi kepada pemodal dan pihak-pihak tertentu ketimbang kepada rakyatnya secara langsung. Cukup dengan bermain mata dan membuat segudang proyek untuk memenuhi dahaga kerakusan haus kekuasaan. Dalam bentuknya yang lain, kebijakan-kibajakan itu berubah menjadi suap. Sebab, dengan pola kepemipinan kita yang seperti itu, tidak akan mampu dan banyak berpengaruh bagi pembentukan karakter bangsa yang adil dan makmur.*Rakyat kelas bawa
Rakyat Tempat Pelarian?
Oleh : Erick Rahmawan
Kadiv. Pendidikan KPMKT Jakarta
Banyaknya tekanan hidup yang harus dialami seseorang membuat kebanyakan orang mengalami frustasi. Beberapa orang karena menghadapi beban pekerjaan yang berat harus mengalami stres pekerjaan. Problem lainnya seperti bencana alam dan kematian orang dekat juga bisa membuat depresi dan frustasi. Hanya sedikit orang yang sanggup menghindari tekanan hidup sehari-hari yang dapat membuat orang frustrasi dan berpandangan pesimistis. Namun, meski menghadapi kesukaran dan tekanan hidup, berpikir secara optimis bermanfaat khususnya untuk kesehatan. Apa saja manfaatnya? Serta bagaimana
Kadiv. Pendidikan KPMKT Jakarta
Banyaknya tekanan hidup yang harus dialami seseorang membuat kebanyakan orang mengalami frustasi. Beberapa orang karena menghadapi beban pekerjaan yang berat harus mengalami stres pekerjaan. Problem lainnya seperti bencana alam dan kematian orang dekat juga bisa membuat depresi dan frustasi. Hanya sedikit orang yang sanggup menghindari tekanan hidup sehari-hari yang dapat membuat orang frustrasi dan berpandangan pesimistis. Namun, meski menghadapi kesukaran dan tekanan hidup, berpikir secara optimis bermanfaat khususnya untuk kesehatan. Apa saja manfaatnya? Serta bagaimana
cara memupuk sikap optimistis?
Optimisme
Apa yang dimaksud dengan optimisme atau bersikap optimis? Optimisme merupakan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Optimisme dapat juga diartikan berpikir positif. Jadi optimisme lebih merupakan paradigma atau cara berpikir.
Sewaktu mengalami kegagalan atau tekanan hidup, bagaimana perasaan seorang optimis? Seorang yang berpikiran positif atau berpikir secara optimis tidak menganggap kegagalan itu bersifat permanen. Hal ini bukan berarti bahwa ia enggan menerima kenyataan. Sebaliknya, ia menerima dan memeriksa masalahnya. Lalu, sejauh keadaan memungkinkan, ia bertindak untuk mengubah atau memperbaiki situasi.
Bertolak belakang dengan optimisme, pandangan pesimistis akan menganggap kegagalan dari sisi yang buruk. Umumnya seorang pesimis sering kali menyalahkan diri sendiri atas kesengsaraannya. Ia menganggap bahwa kemalangan bersifat permanen dan hal itu terjadi karena sudah nasib, kebodohan, ketidakmampuan, atau kejelekannya. Akibatnya, ia pasrah dan tidak mau berupaya.
Berpikir positif juga menjadi kunci sukses untuk mengelola stres. Optimisme akan membuat seseorang menghadapi situasi tidak menyenangkan dengan cara positif dan produktif.
Manfaat Berpikir Positif
Para ilmuwan telah membuat kesimpulan atas riset selama puluhan tahun tentang manfaat berpikir positif dan optimisme bagi kesehatan. Hasil riset menunjukkan bahwa seorang optimis lebih sehat dan lebih panjang umur dibanding orang lain apalagi dibanding dengan orang pesimis. Para peneliti juga memperhatikan bahwa orang yang optimistis lebih sanggup menghadapi stres dan lebih kecil kemungkinannya mengalami depresi. Berikut ini beberapa manfaat bersikap optimis dan sering berpikir positif.
- Lebih panjang umur
- Lebih jarang mengalami depresi
- Tingkat stres yang lebih kecil
- Memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap penyakit
- Lebih baik secara fisik dan mental
- Mengurangi risiko terkena penyakit jantung
- Mampu mengatasi kesulitan dan menghadapi stres
Mengapa manfaat ini bisa diperoleh bagi orang yang optimis dan berpikiran positif? Karena biasanya orang yang optimis akan menghindari kegiatan yang dilakukan orang yang pesimis dalam menghadapi stres dan tekanan hidup. Orang pesimis ketika menghadapi stres akan mengalihkan perhatian dengan kegiatan seperti merokok, konsumsi alkohol, dan menikmati makanan tanpa terkendali. Sedangkan seorang optimis akan melakukan lebih banyak aktivitas fisik, mengikuti diet sehat, serta mengurangi rokok dan alkohol.
Cara untuk Bersikap Lebih Optimistis
Jika Anda sering berpikir secara negatif terhadap orang lain ataupun terhadap situasi yang berat, bukan berarti Anda tidak dapat berpikir positif. Anda dapat mengubah cara berpikir negatif menjadi positif. Tidaklah sulit untuk melakukannya, namun membutuhkan waktu dan latihan untuk membuat kebiasaan baru ini. Berikut ini beberapa cara untuk lebih optimistis dan memiliki pikiran dan sikap yang positif.
- Periksa diri Anda
Sewaktu Anda berpikir bahwa Anda tidak akan bisa menikmati suatu peristiwa buruk atau tidak akan sukses melakukan suatu tugas, segera singkirkan pikiran itu. Berfokuslah pada hal positif yang akan dihasilkan.
Lakukan pemeriksaan secara berulang. Jika pikiran negatif lebih banyak, maka segera alihkan dengan pikiran positif.
Lakukan pemeriksaan secara berulang. Jika pikiran negatif lebih banyak, maka segera alihkan dengan pikiran positif.
- Ikuti gaya hidup sehat
Berolahraga tiga kali sehari dapat mengubah suasana hati menjadi positif dan mengurangi stres. Pola makan yang sehat juga mempengaruhi pikiran dan tubuh. Serta coba mengelola stres Anda.
- Nikmati pekerjaan
Berupayalah menikmati pekerjaan Anda. Tidak soal pekerjaan Anda, carilah aspek-aspek yang menyenangkan Anda.
- Cari teman yang positif
Carilah teman-teman yang memandang kehidupan dengan positif. Orang-orang demikian adalah orang yang optimis dan selalu mendukung Anda dengan memberi saran yang baik.
Sebaliknya jika Anda dikelilingi oleh orang-orang pesimis, akan meningkatkan stres Anda bahkan membuat Anda ragu untuk mengelola stres dengan cara yang sehat.
Sebaliknya jika Anda dikelilingi oleh orang-orang pesimis, akan meningkatkan stres Anda bahkan membuat Anda ragu untuk mengelola stres dengan cara yang sehat.
- Hadapi dan terima
Hadapilah situasi yang dapat Anda kendalikan; berupayalah menerima situasi yang tidak dapat Anda kendalikan.
- Miliki rasa humor
Cobalah untuk tersenyum dan tertawa khususnya saat menghadapi saat yang sangat sulit. Carilah kejadian yang mengundang tawa dalam kegiatan sehari-hari. Rasa humor yang baik membantu seseorang memiliki pikiran, emosi, dan perilaku yang lebih positif.
- Catat hal baik
Setiap hari, catatlah tiga hal baik yang Anda alami.
- Aturan sederhana
Jangan katakan apapun kepada diri Anda sesuatu yang tidak ingin Anda katakan ke orang lain.
Memang untuk bersikap optimistis sangatlah tidak mudah. Bencana alam, beban hidup, dan juga musibah bisa terjadi yang membuat banyak orang merasa sulit untuk berpikiran positif. Namun dengan berupaya bersikap optimis dan berpikir positif akan menghasilkan kehidupan yang lebih sehat dan lebih memuaskan. Jangan menyerah!
Sikap Optimis dapat meningkatkan Kesehatan
Oleh: Alban HK
Ketua Umum KPMKT Jakarta
Ketua Umum KPMKT Jakarta
Dewasa ini, kita dihipnotis seakan-akan barat adalah segala-galanya: pusat ilmu pengetahuan, pusat ekonomi, pusat gaya hidup, pusat kekuatan dunia dan sandaran bagi peradaban lain. Kita akui barat memang memiliki pengaruh yang besar atas kesadaran semua peradaban. Oleh karenanya, barat dianggap sebagai satu-satunya representasi dunia. Itulah kira-kira mitos kebesaran barat yang tertancap dalam benak masyarakat. Pemikir muslim asala Mesir, Hassan Hanafi dengan proyek besar pembaruan Islam al-turats wa al-tajdid (tradisi dan pembaruan), mencoba mengakhiri dan menghancurkan mitos barat sebagai puncak peradaban dan satu-satunya kekuatan dunia.
Dosen Universitas Kairo itu mengusulkan tiga agenda yang harus dihadapi: sikap kita terhadap tradisi islam, sikap kita terhadap tradisi barat, dan sikap kita terhadap realitas. Yang dimaksud “kita” di sini adalah umat islam. Setiap agenda tersebut memilki penjelasan teoritisnya masing-masing. Sebagaimana pengakuannya, ketiga agenda tersebut telah dimulai sejak tahun 1965/1966.
Membutuhkan ruang yang lebih untuk membahas keseluruhan proyek Hassan Hanafi tersebut. Kali ini penulis berusaha mendedahkan agenda kedua: sikap kita terhadap tradisi barat.
Untuk melancarkan agenda kedua itu, Hanafi memulainya dengan merumuskan pemikirannya ke dalam sebuah buku yang diberi judul Muqaddimah fi Ilm al-Istighrab (Pengantar Oksidentalisme). Ditakar dari sisi periode, agenda kedua ini adalah yang terpendek ketimbang yang lainny. Alasannya, ia menganggap bahwa agenda ini terfokus kepada struktur obyek itu sendiri dari fase-fase sejarahnya, yaitu abad pertengahan (masa pendeta gereja, masa skolastik lama dan masa skolastik baru), masa reformasi agama dan kebatinan (abad 15-16 M), masa keilmiahan serta masa eksistensialisme (abad 19-20 M).
Hanafi memaknai oksidentalisme sebagai alat untuk menghadapi barat. Untuk itu diperlukan sebuah disiplin ilmu tersendiri. Ia mengajak agar pembacaan terhadap barat bersifat komprehensif, maksudnya tidak hanya sekedar menilai barat dalam satu dasawarsa belakangan ini.
Mengenai Orentalisme, Hassan Hanafi berkeyakinan bahwa pada dasarnya Orentalisme adalah sama saja dengan imperialism dan orentalisme dijadikan kedok belaka untuk melancarkan ekspansi kolonialisme barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam). Kemudian muncul pertanyaan: apakah Oksidentalisme diciptakan untuk merebut kekuasaan Orentalisme? Tidak! Oksidentalisme Hassan Hanafi menurut Sukdi hanya menuntut pembebasan diri dari cengkraman kolonialisme orientalis dan menuntut keseimbangan dalam kebudayaan, dalam kekuatan, yang selama ini memposisikan barat sebagai pusat dominan. “ego Oksidentalisme lebih bersih, obyektif dan netral dibandingkan dengan ego orientalisme”, tegas cendikiawan penggagas “islam kiri” ini.
Oksidentalisme Hassan Hanafi pada dasarnya diciptakan untuk menghadapi westernisasi yang memiliki pengaruh luas tidak hanya pada budaya dan konsepsi tentang alam, tetapi juga mengancam kemerdekaan peradaban kita. Ini bahkan merambah pada gaya kehidupan sehari-hari: bahasa, manifestasi kehidupan dan seni bangunan, juga ekonomi. Menurut Guru besar Iniversitas Kairo ini, kebutuhan ekonomi memaksa kita untuk membua diri terhadap kapitalisme global.
Selain itu, tugas Oksidentalisme adalah menghapus eurosentrisme, menjelaskan bagaimana kesdaran eropa mengambil posisi tertinggi di lingkungan kita khususnya disepanjang sejarah. Tidak hanya itu, tugas Oksidentalisme juga mengembalikan kebudayaan barat kebatas alamiahnya setelah lama kejayaan imperialism menyebar keluar melalui penguasaan media informasi, kantor-kantor berita, peran penerbitan besar, pusat penelitian ilmiah dan sebagainya.
Jika Oksidentalisme telah selesai dibangun dan dipelajari oleh para peneliti dari beberapa generasi, akan menghasilkan diantaranya: Pertama, mengembalikan barat kebatas alamiahnya, mengakhiri perang kebudayaan, menghentikan ekspansi tanpa batas, mengembalikan filsafat eropa kelingkungan di mana ia dilahirkan, sehingga partikularitas barat akan terlihat. Kedua, mengakhiri Orentalisme dan mengubah status Timur dari obyek menjadi subyek. Lebih dari itu, Oksidentalisme juga dapat mengubah peradaban barat dari kajian obyek menjadi obyek-kajian; melacak sejarah, sumber, lingkungan, awal, akhir, kemunculan, perkembangan, struktur dan keterbentukan peradaban barat.
Dosen Universitas Kairo itu mengusulkan tiga agenda yang harus dihadapi: sikap kita terhadap tradisi islam, sikap kita terhadap tradisi barat, dan sikap kita terhadap realitas. Yang dimaksud “kita” di sini adalah umat islam. Setiap agenda tersebut memilki penjelasan teoritisnya masing-masing. Sebagaimana pengakuannya, ketiga agenda tersebut telah dimulai sejak tahun 1965/1966.
Membutuhkan ruang yang lebih untuk membahas keseluruhan proyek Hassan Hanafi tersebut. Kali ini penulis berusaha mendedahkan agenda kedua: sikap kita terhadap tradisi barat.
Untuk melancarkan agenda kedua itu, Hanafi memulainya dengan merumuskan pemikirannya ke dalam sebuah buku yang diberi judul Muqaddimah fi Ilm al-Istighrab (Pengantar Oksidentalisme). Ditakar dari sisi periode, agenda kedua ini adalah yang terpendek ketimbang yang lainny. Alasannya, ia menganggap bahwa agenda ini terfokus kepada struktur obyek itu sendiri dari fase-fase sejarahnya, yaitu abad pertengahan (masa pendeta gereja, masa skolastik lama dan masa skolastik baru), masa reformasi agama dan kebatinan (abad 15-16 M), masa keilmiahan serta masa eksistensialisme (abad 19-20 M).
Hanafi memaknai oksidentalisme sebagai alat untuk menghadapi barat. Untuk itu diperlukan sebuah disiplin ilmu tersendiri. Ia mengajak agar pembacaan terhadap barat bersifat komprehensif, maksudnya tidak hanya sekedar menilai barat dalam satu dasawarsa belakangan ini.
Mengenai Orentalisme, Hassan Hanafi berkeyakinan bahwa pada dasarnya Orentalisme adalah sama saja dengan imperialism dan orentalisme dijadikan kedok belaka untuk melancarkan ekspansi kolonialisme barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam). Kemudian muncul pertanyaan: apakah Oksidentalisme diciptakan untuk merebut kekuasaan Orentalisme? Tidak! Oksidentalisme Hassan Hanafi menurut Sukdi hanya menuntut pembebasan diri dari cengkraman kolonialisme orientalis dan menuntut keseimbangan dalam kebudayaan, dalam kekuatan, yang selama ini memposisikan barat sebagai pusat dominan. “ego Oksidentalisme lebih bersih, obyektif dan netral dibandingkan dengan ego orientalisme”, tegas cendikiawan penggagas “islam kiri” ini.
Oksidentalisme Hassan Hanafi pada dasarnya diciptakan untuk menghadapi westernisasi yang memiliki pengaruh luas tidak hanya pada budaya dan konsepsi tentang alam, tetapi juga mengancam kemerdekaan peradaban kita. Ini bahkan merambah pada gaya kehidupan sehari-hari: bahasa, manifestasi kehidupan dan seni bangunan, juga ekonomi. Menurut Guru besar Iniversitas Kairo ini, kebutuhan ekonomi memaksa kita untuk membua diri terhadap kapitalisme global.
Selain itu, tugas Oksidentalisme adalah menghapus eurosentrisme, menjelaskan bagaimana kesdaran eropa mengambil posisi tertinggi di lingkungan kita khususnya disepanjang sejarah. Tidak hanya itu, tugas Oksidentalisme juga mengembalikan kebudayaan barat kebatas alamiahnya setelah lama kejayaan imperialism menyebar keluar melalui penguasaan media informasi, kantor-kantor berita, peran penerbitan besar, pusat penelitian ilmiah dan sebagainya.
Jika Oksidentalisme telah selesai dibangun dan dipelajari oleh para peneliti dari beberapa generasi, akan menghasilkan diantaranya: Pertama, mengembalikan barat kebatas alamiahnya, mengakhiri perang kebudayaan, menghentikan ekspansi tanpa batas, mengembalikan filsafat eropa kelingkungan di mana ia dilahirkan, sehingga partikularitas barat akan terlihat. Kedua, mengakhiri Orentalisme dan mengubah status Timur dari obyek menjadi subyek. Lebih dari itu, Oksidentalisme juga dapat mengubah peradaban barat dari kajian obyek menjadi obyek-kajian; melacak sejarah, sumber, lingkungan, awal, akhir, kemunculan, perkembangan, struktur dan keterbentukan peradaban barat.
OKSIDENTALISME DAN SIKAP KITA TERHADAP BUDAYA BARAT!
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





