![]() |
| Deklarasi Awang - Mukmin Untuk Kaltim 2013-2018 |
Deklarasi Awang - Mukmin Untuk Kaltim 2013-2018
Sedikit menyimak sebuah artikel yang ditulis di Koran Tempo, bahwa untuk 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat, menghabiskan anggaran sebesar 151 Milyar setiap tahunya untuk biaya Pulsa. Fantastis dan mencengangkan anggaran yang luar biasa besarnya,belum untuk fasilitas yang lain seperti, biaya rapat, biaya perjalanan, dan biaya yang lain pasti tidak kalah fantastisnya.
Seperti gedung yang akan dibangun untuk DPR,yang memicu Pro dan Kontra karena anggaran yang dibutuhkan tidak main-main besarnya,padahal gedung yang pada saat ini dpergunakan masih kokoh dan kuat. Tetapi DPR punya keyakinan dengan dibangunya gedung baru akan menambah kualitas dan kuantitas untuk anggotanya agar bisa bekerja sesuai dengan keinginan Rakyat Indonesia. Ironis apa yang menjadi agenda DPR untuk saat ini bisa membuat menangis Rakyat Indonesia, pasalnya DPR bisa tertawa dan menikmati segala kemewahan yang didapatkan diatas penderitaan dan kesengsaraan Rakyat Indonesia.
Apakah tidak merasa miris, sebenarya DPR dibentuk untuk bisa menjadi wakil untuk Rakyat Indonesia,bukan untuk menjadi Faktor kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Karena untuk anggota DPR bukanlah orang yang dipilih, melainkan orang yang terpilih dan sangat dipercaya untuk membangun Indonesia menjadi Negara yang makmur dan berkualitas,bukan untuk menghancurkan dan menghabiskan uang Negara. Sepertinya DPR tidak mampu untuk berpikir bahwa masih banyak rakyat Indonesia,yang membutuhkan kelayakan hidup,pendidikan,dan keseimbangan ekonomi. Seakan DPR hanya mampu menjadi Benalu di Negeri yang masih menangis.
DPR = Mesin Pemangkas Uang Rakyat ?
![]() |
| Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim 2010 |
Dari total dana bagi hasil sebesar Rp76 triliun yang dibagikan kepada 33 propinsi di Indonesia, Kaltim mendapatkan jatah tertinggi, yakni Rp15 triliun atau 20 persennya. Itu jauh lebih dibandingkan propinsi makmur lainnya, seperti Riau Rp9,8 triliun, Jakarta Rp8,8 triliun atau Sumatera Selatan Rp4,6 triliun.
Jatah yang diperoleh Kaltim tersebut berasal dari dana bagi hasil sumber daya alam Rp12,55 triliun dan dana bagi hasil penerimaan pajak Rp2,5 triliun.
Kaltim bersama 14 kabupaten/kota di propinsi ini mendapatkan berkah bagi hasil tertinggi karena wilayah ini memiliki kekayaan sumber alam yang luar biasa. Itu berupa minyak dan gas, pertambangan umum seperti batu bara dan mineral lainnya, serta hasil hutan dan perikanan.
Bahkan, salah satu kabupaten di Kaltim, yakni Kutai Kartanegara menjadi kabupaten paling tajir di seluruh Indonesia. Bayangkan, wilayah ini menjadi kabupaten yang mendapatkan bagi hasil terbesar dibandingkan ratusan kabupaten lain di Tanah Air.
Kutai Kartanegara menerima dana bagi hasil Rp2,5 triliun yang berasal dari bagian minyak bumi Rp588 miliar, gas bumi Rp1,64 triliun, tambang umum Rp330 miliar, hasil hutan Rp8 miliar dan perikanan Rp143 miliar.
Belasan kabupaten lainnya di Kaltim juga memperoleh bagi hasil di atas rata-rata kabupaten umumnya. Sebagian besar dari pemda kabupaten tersebut memperoleh di atas Rp400 miliar per tahun.
Namun, kabar dari Kaltim tak selalu sedap. Meski memiliki kekayaan sumber alam melimpah, propinsi ini justru dikenal tinggi korupsinya. Selain mendapatkan laporan banyak kasus korupsi, Komisi Pemberantas Korupsi juga memenjarakan sejumlah mantan pejabat Kaltim yang menjadi tersangka kasus korupsi.
Sumber: vivanews.com
Kaltim, Lebih Makmur Dari Jakarta ?
![]() |
| Wakapolda, Gubernur dan Ketua Cabang KPMKT Jakarta Dalam Sebuah Kesempatan |
BALIKPAPAN, tribunkaltim.co.id - Mahasiswa Kaltim di Jakarta yang tergabung dalam Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Timur (KPMKT) mendesak Pemerintah Provinsi Kaltim segera mewujudkan asrama bagi mahasiswa di Jakarta.
Ketua KPMKT Cabang Jakarta Hasan Al-Banna meminta Pemprov Kaltim dan jajaranya cepat bergerak melakukan kerja mewujudkan Asrama Mahasiswa Kaltim di Jakarta.
"Mahasiswa Kaltim di Jakarta tidak meminta asrama yang super mahal, yang penting bisa direalisasikan tahun ini, " ujar Hasan Al-Banna.
Menurut Alban, kebutuhan akan asrama sangat mendesak mengingat banyaknya teman-teman mahasiswa asal Katim yang menempuh studi di Jakarta. Alasan kuat lainnya adalah mahasiswa membutuhkan tempat berdiskusi, belajar, perpustakaan, serta sarana lainnya yang menunjang kegiatan di luar jam perkuliahan.
"Kaltim itu ladang gula tapi kenapa banyak semut yang tidak merasakan manisnya gula, pemerintah harus memperhatikan betul kebutuhan mahasiswa ini yang berjumlah lebih 600 orang," kata Alban menambahkan.
Sejalan dengan itu pada 22 Januari 2011, mahasiswa Kaltim di Jakarta yang terhimpun dalam KPMKT Jakarta akan mengadakan pelantikan pengurus dan rapat kerja dan berharap besar kepada ayahanda Gubernur dan tokoh-tokoh Kaltim dapat menghadiri acara tersebut dan ini akan menjadi bukti kuat keberadaan mahasiswa Kaltim di Jakarta. (*/son)
KPMKT Jakarta Minta Pemprov Bangunkan Asrama
(nrdn/kpmkt-jkt)
"Suara rakyat suara Tuhan", Awang Faroek Ishak Tolak Pemilihan Gubernur Melaui DPRD
Masih segar dalam ingatan kita berita yang sempat menyulut kemarahan publik pada anggota DPR yang gemar melancong ke luar negri, dengan kedok studi banding anggota DPR yang katanya terhormat itu menghambur-hamburkan uang rakyat.Tidak sedikit, contoh kecilnya kunjungan anggota DPR ke yunani yang diributkan banyak pihak ternyata menghabiskan biaya 1,5 Melliar untuk 8 orang anggota DPR, sebuah ironi Perjalanan yang sudah pasti menghambur-hamburkan uang negara itu didapat melalui pajak yang dibayarkan rakyat. Coba bandingkan dengan anggaran bagi program kesejahteraan masyarakat dan pengentasan kemiskinan yang justru didapatkan dari utang atau jika anggaran tersebut di alihkan untuk program kesehatan masyarakat melalui program jamkesmas maka anggaran 1,5 M untuk 8 orang anggota DPR tersebut bisa membiayai 25.000 warga miskin yang membutuhkan layanan kesehatan terlebih berangkatnya kontigen DPR tersebut bertepatan dengan musibah bencana alam yang menimpa beberapa wilayah di nusantara, belumlah kering rasanya air mata ini untuk saudara-saudara kita di wasior, mentawai dan terakhir di jogja kembali kita harus menangisi tingkah laku miring anggota DPR.
Menjawab kegelisahan publik yang di presentasikan oleh maraknya penolakan dan aksi masyarakat yang mengkritik anggota DPR, salah satu anggota DPD RI Kaltim Awang Ferdian Hidayat turut prihatin hal tersebut disampaikan melalui account facebooknya yang menjadi sarana interaksi anggota DPD RI yang akrab di sapa bang awang dengan masyarakat utamanya konstituen Awang Ferdian di Kaltim, Awang Ferdian nampaknya turut gerah dengan kabar miring yang ditujukan pada anggota DPR yang mangkal di senayan, berikut statmen Awang
ferddian di account facebook pribadinya “Berkenaan dengan maraknya sorotan Publik saat ini tentang anggota Parlemen Indonesia yang bepergian ke Luar Negeri, Alhamdulillah hingga hari ini tidak satu sen pun uang negara yang digunakan untuk membiayai saya ke Luar Negeri” statmen yang kemduian meramaikan wall facebook AFI ini terakhir dari pantauan penulis ada lebih dari 60 komentar dari masyarakat yang menjadi teman di facebook beliau, “benarkah itu Pak?” sebuah pertayaan yang kemudian di jawab oleh Awang Ferdian “Semenjak saya dilantik sebagai anggota DPD-RI hingga hari ini saya mendapatkan tugas 4 kali untuk melakukan Study Banding ke Luar Negeri, akan tetapi saya tidak berangkat karena saya menganggap keberadaan teman-teman yg lain sudah cukup untuk mewakili saya berangkat dlm rangka Study Banding tsb”.
Sikap legislator muda dari Kallimantan Timur yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu universitas di jakarta cukup memberikan kebanggan tersendiri bagi kita, utamanya generasi muda kaltim yang krisis akan profil politisi sekligus tokoh muda dan bersahaja, kehadiran beliau di kancah perpolitikan nasional semoga semakin mempertajam kepekaan dan bersuara lantang menyuarakan aspirasi yang menyangkut pada kepentingan masyarakat kaltim yang hingga kini masih tersandera oleh kepentingan absolut, jika perlu sampai ke luar negri bang? (nrdn/kpmkt-jkt)
Awang Ferdian: "Alhamdulillah hingga hari ini tidak satu sen pun uang negara yang digunakan untuk membiayai saya ke Luar Negeri”
Sampai hari ini masih tersisa satu pertanyaan besar di lubuk hati kita yang terdalam, bahwa apakah ini jawaban dari proses Pilkada yang sudah kita ongkosi sedemikian mahalnya ? (nrdin/?)



